SENJA DI BUKIT CINTA
Di sudut ruangan perkantoran tampak dengan seriusnya siera sedang menatap komputernya dan sesekali menggerakkan jemari-jemari di keyboardnya. Sesekali mengernyitkan dahinya. Juga mengetuk ngetuk bolpoint di meja komputernya.
Hai," hentak Xie pada siera. "Ayo, sudah sore nih. Kita kan diundang Aseng diperayaan desanya." Ujar Xie lagi pada siera. "Kagak deh, !!! Ijin ya, aku lagi banyak kerjaan nih, "jawab siera pelan.
Xie, tidak menyerah. Dan menutup komputer siera dengan map merah. "Tidak bisa siera, kita sudah janji. Kawan kawan sudah nunggu di mobil nih, " Xie memelas pada siera. Oke deh, " jawab siera. Tapi sebentar saja yah,' sahut siera lagi.
Kemudian Xie dan siera membersihkan meja siera dan turun ke lantai bawah menuju mobil. Dewi dan Tia sudah menunggu didalam mobil. Sambil bermain handphone. Aiiiii, laamaa benar kawan kuta nih," Ita menggoda siera. "Oke.. lets go," sahut Dewi. Mereka berempat pun menuju ke rumah Aseng.
Satu jam sudah perjalanan menuju ke rumah Aseng. Tampak gapura tinggi dan kokoh berwarna merah. Mobil avansa putih pun masuk gerbang dan menuju tempat parkir. "Indah dan bagus ya," siera menceletuk dan tersenyum. "Pasti dong, kita tuh tahu kalau kamu pasti suka tempat tempat seperti ini." Dewi membalas celetukan siera. Mereka berempat turun dari mobil dan sudah disambut Aseng dan ketiga teman lelakinya. Mereka pun saling memperkenalkan diri. Kecuali siera, yang diam saja dan hanya melihat suasana perkampungan di tempat Aseng tinggal. Begitu masih banyak tanaman Cemara dan pohon pohon yang masing rindang, dan suasan merah dengan lampion lampion cantik. Tidak jauh tampak tepian pantai dan hembusan angin di sore hari.
Siera, memejamkan mata dan menghirup udara yang sangat sejuk. Tanpa disadari siera seorang pemuda berwajah menarik, berkulit putih, berperwakan tinggi dan bermata sipit. Memperhatikannya dan tersenyum kecil melihat gelagat siera.
Aseng berkata, " kita makan dulu atau mau jalan jalan dulu nih" Xie pun menjawab, " jalan jalan dulu ke pantai dan melihat melihat perkampungan ini," mereka berdelapan pun menyusuri pantai di sore yang sangat sejuk itu. Bercanda tawa dengan riang. Melupakan banyak kerjaan yang masih menumpuk. Menelusuri lorong lorong gedung dan perkampungan penduduk. Singgahlah di suatu gedung yang biasanya digunakan untuk persembahyangan penduduk setempat. Aseng mengajak teman teman untuk masuk kedalam. "Aseng, bisa tidak kita diramal," tanya Ita pada Aseng. Iya aku juga mau, "Dewi dan Xie pun ikut mengangguk.
Aseng menuju kedalam ruangan dan keluarlah seorang kakek kakek yang memandangi kami. Siera sibuk melihat setiap sisi ruangan yang begitu banyak lukisan yang dia sukai, banyak grafir grafir indah. Chen, teman Aseng. Mendekati siera yang sedang asik mengamati lukisan dan patung patung indah. Dan sesekali tersenyum kecil. "Kamu suka lukisan ya," Chen bertanya pada siera. Siera pun mengganggukan kepala. Tanpa menoleh pada Chen. Chen mengiringi siera yang mengelilingi setiap sudut ruangan. Siera tidak sadar, dia terpisah dengan teman teman kantornya. Sedangkan teman temannya sibuk sedang diramal.
Chen dan siera berhenti di tempat kolam ikan yang sangat banyak ikan koi. Dan ada gemricik air terjun kecil menemani mereka berdua memandangi ikan koi. Bersama angin sejuk yang menerpa raut muka siera dan membuat siera memejamkan mata, dan menghela nafas menandakan kesejukan didalam hatinya. Chen pun semakin kagum dan tersenyum kecil melihat siera. Chen mengingatkan siera bahwa hari sudah mulai gelap dan untuk bergabung dengan teman teman lainnya di dalam gedung. Chen dan siera bergabung dengan teman temannya. Rupanya mereka sudah menunggu siera dan Chen.
Siera, ayo kamu belum diramal nih," ajak Dewi. Siera pun enggan. Xie, dan Ita pun ikut menyuruh siera. Kakek tua itu memperhatikan siera dengan tajam. Siera sedikit ketakutan. Chen pun maju dan mendampingi siera. Menurut budaya di kampung Aseng hari ini adalah hari baik dan sangat baik. Kakek tua memberikan gelas kecil berisi air putih. Dan membawa jarum kecil. Tanpa bersuara kakek tua meminta tangan siera. Siera pun terkejut. Tapi Chen bersamanya. Ibu jari siera ditusuk jarum sedikit dan mengeluarkan darah. Dan darah itu diteteskan didalam gelas. Kakek tua itu pun menatap Chen untuk melakukan hal yang sama seperti siera. Darah Chen dan darah siera diteteskan didalam gelas yang sama. Dan kemudian si kakek membawa gelas itu di depan meja yang ada dupa nya. Siera pun berlalu bersama teman lainnya untuk makan malam.
Hari itu perayaan di kampung Aseng sangat meriah. Dan banyak keluarga yang berkumpul. Aseng dan teman temannya sedang makan malam. Sambil mendengarkan musik di seberang meja.
Tiba tiba datanglah seorang anak kecil membisiki Aseng. Aseng pun segera berlalu dan meminta Chen untuk menemaninya. Aseng dan Chen diminta menemui kakek tua sang peramal.
Siera, Xie, Dewi dan Ita asyik makan deng berdendang. Mereka pun saling bercanda. Hari pun mulai gelap. Siera pun meminta pamit pulang. Tapi karena Aseng masih keluar. Mereka pun menunggu Aseng.
Tiba - tiba siera teriak, "aduuuhhh" . teman teman dan undangan disitu ikut mendongak dan melihat siera ketumpahan minuman dingin. Dan tampak blouse putinya basah dan berwarna merah. "Aduh, bagaimana ini, aku tidak bawa baju ganti." Siera tampak bingung dan sedih. Datanglah Chen dan Aseng. Mereka berdua ikut panik. Xie berkata, Aseng apa boleh siera berganti di tempatmu" minta Xie. Aseng pun segera setuju dan mengajak siera menuju rumahnya. Chen pun mengikuti Aseng dan siera. Setelah di tempat Aseng, rumah Aseng sesang banyak tamu. Aseng pun bingung. Dan melihat Chen. Chen pun setuju mengajak siera dan Aseng ketempat Chen. Setelah tiba di rumah Chen, Aseng meminta Chen menjaga siera, Aseng kembali keteman temannya yang sedang menunggu.
Dewi bertanya pada Aseng, " Bagaimana siera, ?????" Xie dan Tia pun ikut bertanya.
Sudah, dengan Chen di tempat Chen. "Jawab Aseng santai. Oh ya Xie, Dewi dan Tia. Ini hari kan sudah malam bagaiman kalau kalian menginap di tempatku saja. Sebentar lagi acara usai. Dan tamu tamu sudah balik kerumah mereka. Mereka bertiga pun, berfikir. Okelah, besok pagi kami harus balik. Xie, Dewi dan Tia pun setuju menginap di rumah Aseng.
Bersambung....