Contoh Pidato untuk Lomba "ANTI HOAX"
Assalamu’alaikum wr.wb
Alhamdulillaahi
robbil ‘alamin, Washsholaatu wassalamu’alaa asyrofil anbiyaa-i wal mursaliina,
wa-alaa aalihi washohbihi ajma’iin. Ammaa ba’du.
Bapak dan ibu Juri yang saya hormati serta para hadirin yang
berbahagia.
Patutlah kiranya pada
kesempatan yang berbahagia ini kita memuji Allah SWT. Dengan ucapan
alhamdulillah, karena hanya dia lah yang berhak untuk menerima pujian dan
sanjungan.
Selanjutnya kesejahteraan dan
keselamatan semoga tetap tercurahkan kepada junjungan Nabi kita Muhammad saw.
Karena dengan ajaran-ajaran yang dibawanya kita dapat mengetahui mana jalan
yang benar dan mana jalan yang salah.
Bapak dan ibu dewan juri yang bijaksana,
hadirin yang budiman.
Pada kesempatan yang
berbahagia ini saya akan menyampaikan sebuah pidato berjudul “ ANTI HOAX”. Pada waktu mendatang banyak elemen masyarakat
yang mendeklarasikan masyarakat anti hoax. Yang mana gerakan
anti-hoax ini dipicu maraknya berita palsu di masyarakat yang menyebar
melalui media sosial di Indonesia. Sebagai generasi muda marilah kita bersama –
sama memerangi hoax karena informasi palsu seperti itu kini sudah masuk
level berbahaya yang bisa merusak semangat persaudaraan, semangat persatuan dan
kebangsaan. Yang mana "Hoax
seperti itu bisa memicu sentimen yang menguat antara kelompok dan bisa
membahayakan hubungan antarumat beragama, atau antarwarga sebangsa. Di dalam
Islam sebenarnya banyak ajaran-ajaran dan pelajaran penting mengenai bagaimana
menghadapi berita atau kabar bohong.
Dalam konteks hadits kalau di
kalangan orang Islam. Hadits itu ada sanad atau silsilah, keberurutan,
riwayatnya sama matan--teksnya. Kalau sanad atau silsilah perawi
atau periwayat hadits itu putus, atau diantara perawi-nya ada orang
yang nggak bisa dipercaya, hadits itu kan otomatis derajatnya turun. Sama
seperti sekarang. Tulisan yang nggak ada nama penulisnya ibarat hadits nggak
ada perawi-nya, periwayatnya. Harusnya nggak bisa dipercaya. Kita bisa
mengatakan ke masyarakat seperti itu. Jangan percaya tulisan yang nggak ada
nama penulisnya.
Bapak dan ibu dewan juri yang bijaksana, hadirin yang budiman
Di kalangan pembuat hoax mungkin
juga melakukan strategi lain, menyusup, dengan cara backdoor (lewat pintu
belakang)?. Saya percaya, pada titik tertentu commonsense atau
akal sehat masyarakat akan bisa menilai. Hanya kelompok yang memang punya
agenda politik, ekonomi, dan ekonomi tertentu saja yang akan tetap keukeuh
menggunakan itu. Tapi pada dasarnya masyarakat awam, masyarakat normal akan ada
proses berpikir.
Dalam konteks Islam, sejarah Islam mengajarkan banyak. Ketika
Nabi meninggal, Sayyidina Utsman dan Sayyidina Ali itu kan ada konflik di
internal umat Islam. Saat itu muncul hadits-hadits palsu. Itu kan sama, hadits
palsu. Waktu itu kelompok yang bertikai, mencoba mencari legitimasi dari
perkataan Rasulullah. Lalu banyak orang bikin hadits palsu, seolah-olah itu
perkataan Rasulullah untuk kepentngan dia. Ini sama juga hoax. Hoax
dibuat pada dasarnya untuk meligitimasi mendukung mensukseskan
kepentingan-kepentingan ini.
Dalam hukum Islam, ada tulisan, "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (QS. Al Hujurat: 6).
Makanya kita harus hati-hati, apalagi terkait informasi yang bisa memicu sentimen kesukuan atau keagamaan. Ini kan berbahaya sekali.
Dalam hukum Islam, ada tulisan, "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (QS. Al Hujurat: 6).
Makanya kita harus hati-hati, apalagi terkait informasi yang bisa memicu sentimen kesukuan atau keagamaan. Ini kan berbahaya sekali.
Bapak dan ibu dewan juri yang saya hormati, para hadirin yang
saya sayangi.
Demikianlah pidato
kami, ada kurang lebihnya kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Akhirul kalam
IHDINASH SHIROOTHOL MUSTAQIIM WABILLAHIT TAUFIQ WAKHIDAYAT WASSALAMU’ALAIKUM
WAROHMATULLOOHI WABARAKATUH.
dari berbagai sumber