SENJA DI BUKIT CINTA bagian kedua

Chen segera masuk pintu pagar rumahnya, dan meminta siera masuk juga. Siera merasa canggung, apalah daya karena blouse putihnya basah dan berwarna merah hampir sepenuhnya baju kerjanya. Hingga tembus pandang tampak jelas tubuh siera. Siera pun menutupi dengan tas kerjanya. Disaat memasuki halaman tampak banyak tanaman dan bunga bunga cantik, dan aroma semerbak bunga bunga di halaman membuat siera terhenti berjalan. Dia menatap sekitar halaman yang indah dengan lampu lampu taman bersinar redup menerangi mekarnya bunga bunga. Chen, yang melihat siera berhenti segera membalikkan badan dan mempersilahkan siera masuk kedalam rumah. Mereka berdua pun masuk kedalam rumah. Disambutlah seorang laki laki muda, kira kira lebih muda dari Chen. Liu adalah adiknya Chen. Liu bertanya pada Chen dengan berbisik pelan, "siapa". Chen hanya berlalu menuju ke tangga dengan mengisyaratkan siera untuk mengikutinya. Siera, menyapa dengan memberi anggukan kepada Liu. Liu pun memberi balasan anggukkan. Siera pun mengikuti Chen yang sedang membuka pintu kamar. Dengan ragu dan canggung siera masuk ke dalam kamar. Siera takjub melihat begitu banyak buku buku yang tersusun rapi di dinding kamar, Chen meletakkan  baju tidurnya dan handuk kepada siera di atas meja kerja Chen.  Siera segera ke kamar mandi dengan tergesa gesa karena segera ingin buang air kecil. Chen pun, berlalu untuk keluar kamarnya. Siera segera mandi dan mencuci bajunya yang terkena tumpahan air minum Syrup. Beberapa menit kemudian, siera baru sadar kalau dia lupa membawa handuk dan baju gantinya. Semakin bingung siera dengan apa yang harus dilakukan. 

Siera memanggil manggil Chen. Karena tidak tahu namanya siera makin tidak karuan. Siera berusaha membuka pintu kamar mandi. Mengintip apa ada orang. Sambil berusaha memanggil Chen. 
Hening sekali, siera pun keluar mengendap ngendap perlahan menuju meja. Tidak lama kemudian Chen masuk kamar dan betapa terkejutnya siera, begitu pun Chen. Mereka berdua malu dan saling membalikkan badan. Chen melihat siera tanpa menggunakan sehelai kain pun. Sedangkan siera tertunduk malu dan segera membawa baju diatas meja dan berlari ke dalam kamar mandi. Jantung Chen berdegup kencang, dia pun berlalu keluar kamarnya. Tidak lama kemudian siera keluar kamar mandi. Dan keluar menuju pintu kamar tidur Chen. Chen sudah menunggu siera di depan pintu. 

"Cukup kah bajunya," tanya Chen kepada siera. Cukup," jawab siera lirih dan tertunduk malu. Mari makan, tadi kamu tidak sempat makan," ajak Chen ke siera. Chen menuju balkon dekat kamarnya. Tampak meja kecil dan dua kursi saling berhadapan. Meja yang sudah tersedia makanan siap di santap. Siera berdiri di balkon dan menatap jauh melihat pemandangan yang indah di malam hari. Tampak pesisir pantai yang disinari cahaya rembulan. Tampak pantulan Rembulan di atas air laut. Tampak kelap kelip cahaya lampu para nelayan yang sedang mencari ikan di tengah lautan. Semilir angin malam menerpa lembut di rambut dan raut wajah seira. Chen, hanya menatap siera dan semakin berdegup kencang jatung Chen. Siera yang merasa diperhatikan kembali duduk dan menatap Chen. Chen, menatap mata siera dengan tatapan kasih sayang. Siera tak kuasa membalas tatapan Chen. Jantung siera berdetak kencang. Dan tangannya bergetar dan hampir menumpahkan air didalam gelas yang hendak siera minum. 

Spontan tangan Chen meraih tangan siera yang hampir menumpahkan air minum. Sekian detik tangan mereka bersentuhan. Dan kemudian terlepas lagi. Chen memperkenalkan diri begitu juga dengan siera. Chen terdiri dari tiga bersaudara dan semua laki laki. Dan Chen adalah anak sulung. Kedua orang tua Chen sudah tiada. Chen hanya tinggal dengan kedua adiknya. Mereka saling bertukar cerita dan malam makin larut. Siera mencari telpon genggamnya untuk mencari teman kantornya. Chen memberitahukan bahwa Xie, dewi dan Ita sedang dirumah Aseng. Siera heran kenapa tadi katanya lagi banyak tamu. Chen pun menjelaskan acaranya sudah selesai dan para tamu sudah pada pulang. Siera pun ingin bertemu dengan teman temannya. Dan menginap di rumah Aseng. Adik Chen yang mendengar siera mau pergi mengatakan kalau hari sudah larut malam sekali, "menginap disini saja kak," kakak bisa tidur di kamar kakak Chen. Kakak Chen biar di kamar depan. Kedua adik Chen mengharap siera menginap. Sedangkan Chen hanya terdiam dan siap mengantar siera ke rumah Aseng. Siera merasa tidak enak dengan adik adik Chen. Dan siera pun setuju menginap di kamar Chen. "Kakak, besok pagi kita ngobrol ngobrol lagi ya. Malam ini kami capek sekali". Liu meminta siera.  Chen pun mengantar siera ke kamar tidurnya. Siera merasakan kehangatan pada adik-adik Chen. Entah kenapa dia merasakan kenyamanan. Chen sosok yang tidak banyak bicara. "Istirahatlah," Chen memberikan selimut pada siera. Siera menatap mata Chen, Chen pun menatap lembut siera. Detak jantung siera berdebar debar kencang. Tiba - tiba hujan deras dan suara petir menyambar, tiba - tiba saluran listrik padam, betapa terkejutnya siera. Dan tanpa sadar siera memeluk Chen erat-erat. Chen pun menjadi gugup dan berdebar debar. Semakin erat siera memeluk Chen. Semakin hangat pelukan Chen. Chen berusaha mengendalikan dirinya dan segera keluar kamar untuk melihat keadaan. Siera menggenggam erat tangan Chen.  Chen pun membalas menggenggamnya.  Mereka berdua keluar kamar, tampak kedua adik Chen dan seorang laki laki paruh baya sedang melihat ke halaman luar. Yang masih hujan deras. Suasana malam gelap dan Hujan yang deras membuat mereka kembali ke kamar. "Rupanya ada yang tersambar petir, sambungan tiang listriknya." Laki laki paruh baya itu memberi tahu. Satu kampung listriknya padam. Besok pagi baru bisa diperbaiki. "Sahutnya lirih. Dan berlalu menuju kamar belakang dilantai bawah. Siera dan Chen masih saling menggenggam tangan mereka. Mereka tidak saling menyadarinya. Sesampai dikamar Chen. Chen melepas genggaman siera untuk menyalakan lampu emergency. Siera pun terdiam di sudut jendela kamar Chen. Melihat derasnya hujan. Lampu emergency sudah menyala. "Istirahatlah" minta Chen pada siera. Tapi siera tetap menatap di luar jendela. Chen pun menuju keluar pintu kamar. Siera membalikkan badan, "jangan pergi, aku takut" pinta siera ketakutan. Chen berhenti dan berbalik menghampiri siera. "Dzarrrrrr" suara petir menyambar didepan jendela siera berdiri. Dan begitu tersentak nya siera melompat pada Chen. Chen pun berusaha menenangkan siera. Dan mengantar siera ke tempat tidur. Jam dinding berdenting tiga kali menunjukkan jam 3 pagi. Chen dan siera belum bisa tidur. Hati mereka berdua saling berdegub. Sedangkan hujan juga belum reda, udara dingin semakin menusuk kalbu. Chen dan siera duduk di tepi ranjang. Petir menyambar lagi. Siera ketakutan dan perpegangan Chen. Chen memeluk siera erat. Wajah siera dan Chen saling menatap, jantung mereka saling berdegub kencang. Chen mencium kening siera. Siera semakin bergejolak. Chen mencium mata dan hidung siera. Bibir mereka semakin mendekat, menempel dan Chen mencium bibir siera. Hangat, terasa, Chen mengulum bibir siera. Siera membalas ciuman Chen, gairah mereka berdua semakin memanas, Chen membuka satu persatu kancing baju siera, Chen meremas sesuatu di dada siera. Meremas dan mengulumnya. Siera mendesah panjang. Satu persatu baju mereka lepas dan malam pertama bagi siera dan Chen. Gejolak cinta dan birahi mereka  menyatukan perbedaan diantara mereka berdua. 

Sinar matahari pagi menyinari kamar Chen, tampak siera terlelap di dalam pelukan Chen. Terbalut selimut putih. Jam dinding menunjukkan waktu 10 pagi. Chen memandangi wajah siera dan mencium kening siera lembut dan mesra. Chen mencium bibir siera lembut dan hangat. Siera terbangun dan menatap malu pada Chen. Chen kembali mencium siera mesra. Mereka pun kembali berpelukan hangat. 

Siera melihat jam dinding, dan mencari handphone nya. Karena semalaman baterei handphone nya drop. Ketika hendak berdiri dia kaget tidak kepayang karena seprei putih ranjangnya ada sedikit noda darah. Siera menangis. Chen yang usai mandi melihat siera menangis terheran heran dan menanyakan kenapa. "Ada darah" sahut lirih siera takut. Chen pun tersenyum dan memeluk siera. "Mandi yuk, ajak Chen. Siera pun bergegas ke kamar mandi. Dan "aakhhh.... Siera teriak. Chen bergegas ke kamar mandi dan melihat siera meringis. Dan melihat siera basah kuyup tanpa busana pun. Rupanya siera merasakan perih saat buang air kecil. Chen yang melihat siera meringis dan basah kuyup, ia pun menuju siera dan melepas handuk yang sedang membelitnya. Siera tertegun dan malu malu. Air di Shower kamar mandi terus mengguyur badan siera dan Chen. 

Tok...tok...tokk... Pintu kamar tidur Chen berbunyi. Chen dan siera yang sudah berganti baju segera bergegas keluar. Tampak kedua adik Chen sudah didepan pintu. Siera sangat malu. Chen memeluk erat pinggang siera. Dan adik adik Chen menyambut siera sangat senang. Mereka menarik tangan kiri dan kanan siera. Menuju meja makan. Dan tampak laki laki paruh baya itu pun menyambut siera dengan kebahagiaan dan kesopanan. Membuat siera segan. Laki laki paruh baya itu memperkenalkan diri kepada siera. Dan dia sudah lama mengikuti keluarga Chen. Sejak Chen dan adik adiknya masih kecil. 

Chyou adik terkecil Chen setelah liu, chyou yang baru menyelesaikan kuliahnya di luar negeri. Chyou dan Liu sangat senang melihat kakaknya, Chen tampak bahagia. "Kakak Chen, kakak siera. Kami ingin kalian segera melaksanakan pernikahan." Pinta chyou. Siera terdiam. Dan Chen memegang lembut tangan siera. Dan siera kembali tenang. Banyak cerita di meja makan itu, membuat siera sangat mencintai keluarga Chen, meski baru mengenalnya tapi kehangatan dan sambutannya membuat siera ingin menangis. Karena Chen sekeluarga sudah ditinggal kedua orangtuanya sejak mereka kecil. Usai makan siera meminta pamit untuk kembali ke rumah. Karena esok pagi mulai bekerja lagi. Tiba tiba Liu, berdiri dan menghampiri siera dan memeluk siera. Siera sangat terkejut. "Kakak, jangan pergi" pinta Liu. Chyou pun ikut berdiri memeluk siera dan kakaknya Liu. Chen yang melihat adik adiknya bangkit dan pergi ke kamarnya. Chen mengambil tas milik siera. Tampak kesedihan yang disembunyikan Chen diketahui pengasuh Chen, Liu dan chyou. Siera merasa bingung dan sedih. Seakan hatinya sakit. Dikarenakan akan meninggalkan keluarga Chen. Chen memberikan tas siera. Siera membuka handphonenya. Dan banyak pesan yang belum terbaca. Disaat siera membaca pesan di handphone nya. Chen keluar menuju ruang kerjanya. Liu dan chyou menemai siera sambil mengobrol. 


Postingan populer dari blog ini

JALAN YANG DITEMPUH

Loyalitas Tanpa Batas

BULAN SABIT - CRESCENT MOON